Perselingkuhan seolah menjadi trend akhir-akhir ini, kalau dulu selingkuh hanya dilakukan oleh orang-orang kota, para artis dan orang-orang berduit saja, tapi sekarang banyak berita kasus perselingkuhan oleh orang-orang desa, dan yang paling membuat kepala kita geleng-geleng adalah perselingkuhan guru dengan murid di sekolah, guru ngaji dengan santrinya, antar tetangga dan lain-lain macamnya.
Seolah sudah tak takut lagi dengan dosa dan lumrah di telinga masyarakat zaman sekarang, sehingga semakin hari semakin banyak orang berselingkuh tanpa berfikir panjang tentang masa depan anak-anaknya dan keluarga.
Apakah memang zamannya yang sudah tua ataukah ada pergeseran nilai-nilai budaya? Tentu itu menjadi pertanyaan setiap orang yang mau berfikir tentang hal itu.
Indonesia memang bukan Negara berdasarkan agama yang mengatur tentang perselingkuhan dan hal-hal yang tidak baik dimata masyarakat tetapi kita yakin semua agama apapun tidak membenarkan perbuatan tersebut. Oleh karena itu mungkin akan lebih baik pemerintah mengatur itu semua karena orang akan lebih takut dengan hukum Negara daripada hukum agama.
Banyaknya bencana yang terjadi di Negara ini memang semata-mata bukan karena perbuatan asusila sebagian warga Negara, akan tetapi bukankah kita punya tuhan yang telah berjanji dan mengancam yang tertulis di dalam kitab-kitabnya. Kita selalu berfikir bahwa bencana adalah kejadian alam biasa yang bisa diterangkan secara ilmiah sehingga kita tidak pernah takut akan ancaman-ancaman tuhan. Berbeda dengan masyarakat zaman dulu yang selalu mengaitkan
bencana dengan hal-hal yang menyimpang dengan adat dan nilai-nilai kebaikan, sehingga mereka berfikir bagaimana hal tersebut (perbuatan menyimpang) tidak terulang lagi. Karena itu tidak ada salahnya kita meniru orang-orang terdahulu dengan tidak menyimpang dari norma-norma agama.